Postingan

Tenggelam

Kita barang kali pernah berpikir, bagaimana rasanya menjadi tidak ada? Selalu menjadi seolah baik-baik saja. Aku merasa tak pernah bisa untuk tak peduli, untuk membiarkan yang berlalu biarlah berlalu, untuk menikmati setiap detik tanpa perlu merasa khawatir takut salah. Aku sangat takut jika aku melakukan kesalahan, aku tak bisa memaafkan diriku jika aku salah, sebuah kesalahan berarti sebuah kegagalan, dan aku tak akan pernah bisa untuk memperbaikinya. Aku cenderung menghindar, jika sudah salah berarti aku gagal di situ, aku tidak punya kesempatan lagi di bidang itu. Maka, aku lari kepada bidang yang lain, mencoba lagi berpura-pura semua hal akan baik-baik saja. Kali ini jangan gagal, harus bisa, jika gagal konsekuensinya masa depanmu yang hancur. Akhir-akhir ini cukup sulit bagiku untuk berpikir positif. Tugas kuliah sebenarnya tidak begitu banyak, tidak begitu memberatkan. Namun, sesuatu yang tumbuh di pikiranku semakin liar dan bercabang, seperti memberitahu bahwa aku adal...

Ruang Hati: Dari aku yang tak mau tenggelam dalam sunyi

Segala hal terasa berat akhir-akhir ini. Aku terbebani oleh dua hal, yaitu rasa percaya diri yang redup dan aku yang tak bisa memahami arti hidup. Beberapa orang mengatakan bahwa aku sanggup, aku hebat, aku bisa melewati segalanya dengan lancar. Cukup ikuti alurnya nanti ia akan membawamu pada sebuah muara. Di mana muara tersebut mengumpulkan hasil keringat dan kerja keras milikmu selama enam bulan lamanya. Tetapi aku ini orang yang tidak sabaran. Aku bukan orang yang ingin mencicipi kesengsaraan meski orang-orang bilang bahwa itulah hidup. Kemudian aku berpikir, apa yang sedang aku lakukan ini? Untuk apa aku melakukan ini? Mengapa pada mulanya aku memilih jalan ini? Pertanyaan-pertanyaan itu bergelantungan di langit-langit kamarku yang senyap. Membuat setiap tarikan napasku menjadi berat. Oh apalagi ini? Mengapa semua tugas ini tak ada selesainya? Mengapa lagi-lagi aku terjebak dalam situasi yang kiranya tak mampu aku lewati? Lalu aku melihat mereka, teman sekelas dan kakak kelas yan...

Ruang Hati: Mengapa Kita Harus Berbagi

Dalam ruang pikiranku yang sangat sempit, aku pernah berkali-kali terjebak dan tersesat. Dalam ribuan tanya yang tak kunjung terjawab, aku pernah tenggelam dalam gelap. Awan mendung terus hinggap di hatiku, seakan badai akan datang menghantam dan menghancurkan perasaanku dalam kepingan yang tak terlihat.  Lalu awan mendung itu memang menggumpal menjadi hitam pekat yang menakutkan. Aku tentu saja berusaha lari, mencoba pergi dari nasib buruk. Tetapi aku sadar bahwa ada sesuatu yang tertinggal, sebuah perbuatan yang sederhana namun begitu sulit dilakukan. Aku lupa untuk berbagi kesedihan. Seringnya aku dan mungkin juga kamu, kita sering berbagi kebahagiaan. Hari ini aku mendapatkan sepatu baru, bagaimana menurutmu? Apakah ini indah? Seringnya kita berbagi tawa dan canda yang kita buat untuk menutupi hujan deras yang mengguyur perasaan kita. Sering kali kita menipu diri, menjadi bahagia dan menikmati hidup. Padahal apa yang patut dinikmati dari kebohongan?  Dan aku pun se...

Review Novel: EVERMORE

Gambar
“Her feelings, the way she loved you Max, it’s evermore.” hlm.269 INDENTITAS Judul                : Evermore Penulis             : Cecilia Wang Penerbit            : Bukune Tahun Terbit     : 2017 SINOPSIS There’s a famous cliché line, that if you love someone set them free and if they come back, they’re yours. Aku merelakannya. Merelakannya mengejar wanita lain. Lalu melihatnya mencintai wanita lain. It’s fine. I’m fine letting him go . Hal yang paling sulit, tapi aku melakukannya untuk diri sendiri. . . . Jadi, mungkin sesungguhnya cerita ini adalah ceritanya dengan pria bodoh itu. Bagaimana seorang pria bodoh akhirnya sadar dengan perasaannya sendiri. Semuanya karena wanita itu. (Diambil dari bagian prolog) REVIEW So, this is the first series of Blue Serie...

Review Novel: REMBULAN DI PINGGANG BUKIT

Gambar
"Bisa nggak Pak seseorang memilih jadi idhar? Semuanya jelas, nggak abu-abu, nggak penuh bayangan. Setiap orang tentu ingin kepastian dari semua hal yang sudah kita lakukan. Alasan melakukan ini dan itu." hlm. 64 IDENTITAS Judul                 : Rembulan di Pinggang Bukit Penulis               : Susan Arisanti Penerbit             : Rail Media Tahun Terbit      : 2015 SINOPSIS Hiperaktif . Sering kena omel. Sadis. Jutek. Tapi memiliki hati yang lembut. Sebut saja itu Mufaisha Rahma Nurpati. Usianya 17 tahun, tapi tidak sehari pun dia tidak membuat kesal ibunya. Mulai dari kulkas yang rusak, kabel listrik yang diacak-acak, mesin cuci yang ngadat, dan alat elektronik lainnya yang tidak selamat jika Mufaisha sentuh. Hal yang paling disukai selain dalam ...