Ruang Hati: Mengapa Kita Harus Berbagi


Dalam ruang pikiranku yang sangat sempit, aku pernah berkali-kali terjebak dan tersesat. Dalam ribuan tanya yang tak kunjung terjawab, aku pernah tenggelam dalam gelap. Awan mendung terus hinggap di hatiku, seakan badai akan datang menghantam dan menghancurkan perasaanku dalam kepingan yang tak terlihat. 
Lalu awan mendung itu memang menggumpal menjadi hitam pekat yang menakutkan. Aku tentu saja berusaha lari, mencoba pergi dari nasib buruk. Tetapi aku sadar bahwa ada sesuatu yang tertinggal, sebuah perbuatan yang sederhana namun begitu sulit dilakukan. Aku lupa untuk berbagi kesedihan.
Seringnya aku dan mungkin juga kamu, kita sering berbagi kebahagiaan. Hari ini aku mendapatkan sepatu baru, bagaimana menurutmu? Apakah ini indah? Seringnya kita berbagi tawa dan canda yang kita buat untuk menutupi hujan deras yang mengguyur perasaan kita. Sering kali kita menipu diri, menjadi bahagia dan menikmati hidup. Padahal apa yang patut dinikmati dari kebohongan? 
Dan aku pun sering berbohong. Menutupi luka hati, agar kamu tahu aku hidup baik-baik saja. Agar kamu tak perlu mengkhawatirkan aku, sebab aku tahu kamu perlu mengkhawatirkan yang lain juga. Aku masih sanggup menanggungnya sendiri. Itulah yang aku katakan pada hatiku,dan kini selain awan gelap dan hujan deras, petir pun ikut meramaikan kacaunya perasaanku.
Kemudian dalam kesendirian, aku menemukan sunyi yang tak pernah bersinggungan denganku. Sebenarnya aku enggan untuk menyapa, tetapi ia lebih dulu memanggil namaku. Katanya sunyi bisa menjadi temanku dikala sedih, sunyi bisa menyimpan luka hatiku rapat-rapat. Ia tak akan membaginya pada siapapun. Sunyi adalah teman terbaik yang akan aku miliki. Tetapi jauh di dasar hatiku yang kacau, aku tak mau berteman dengan sunyi. Karena dengan sunyi aku tak bisa berteman dengan yang lain, aku akan sendiri. Selamanya dalam kukungan rasa lelah dan pesismis.
Maka di tengah kekacauan itu, ada seruan yang muncul datang dari pikiranku. Katanya aku perlu berbagi kesedihan. Katanya bukan hanya aku yang terpenjara dalam badai. Katanya aku bisa menjauhi sunyi. Katanya aku bisa kembali menyapa bahagia.
Kini akan kukatakan padamu bahwa aku sedang besedih. Entah untuk alasan yang mana, sebab perasaanku sudah tak menentu. Pernahkah kamu merasa dalam bahwa apapun yang kamu lakukan adalah salah? Bahwa mau sekeras apapun kamu berusaha kamu pikir akhirnya kamu akan gagal juga? Bahwa pikiranmu memberikan rasionalitas atas segala bentuk peejuang yang telah kamu lakukan. Bahwa kamu belum cukup, kamu harus melakukan lebih, kamu bisa lebih hebat dari ini, harus bekerja lebih keras. Jangan berhenti di sini jalan masih panjang dan cita-cita besar yang sudah kau susun harus berjalan sebagaimana mestinya. 
Tetapi aku merasa lelah, sebab semua itu seolah tidak pernah usai. Selalu muncul ambisi baru setelah selesai ambisi yang lama. Itu baik aku tahu, itu dapat membuat dirimu menjadi lebih visioner dan dapat mempertimbangkan baik buruknya sesuatu. Namun aku lelah sebab aku seolah tak pernah beristirahat. Pikiran ini, tak mau berhenti menggunakan seribu cara agar aku melakukan ini dan itu. Tak mau aku berleha-leha.
Sekali lagi aku tahu itu bagus. Tapi aku telah menjalaninya selama bertahun-tahun dan aku mulai lelah. Aku lelah mengikuti ambisi yang muncul di pikiranku, ia seperti lumut yang menghancurkan batu dengan perlahan. 
Setelah menulis ini aku masih punya banyak pekerjaan yang tersusun rapi di pikiranku. Masih punya banyak rasa lelah yang belum terselesaikan.
Tetapi aku ingin berbagi, berbagi kesedihan yang barangkali kau butuhkan.
Sebab meski hujan badai dan petir masih menghuni hatiku, kata-kata perintah masih memperbudak pikiranku, aku percaya aku bisa bangkit. Menjadi versi terbaik diriku. Menjadi diriku sendiri tanpa perlu iri dengan orang lain, tanpa perlu merasa tersaingi.
Dengan begitu, kurasa kesedihanku sedikit berkurang. 
Apa kesedihanmu hari ini? Mari kita berbagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel: EVERMORE

Review Novel: REMBULAN DI PINGGANG BUKIT

Ruang Hati: Dari aku yang tak mau tenggelam dalam sunyi