Ruang Hati: Dari aku yang tak mau tenggelam dalam sunyi
Segala hal terasa berat akhir-akhir ini. Aku terbebani oleh dua hal, yaitu rasa percaya diri yang redup dan aku yang tak bisa memahami arti hidup. Beberapa orang mengatakan bahwa aku sanggup, aku hebat, aku bisa melewati segalanya dengan lancar. Cukup ikuti alurnya nanti ia akan membawamu pada sebuah muara. Di mana muara tersebut mengumpulkan hasil keringat dan kerja keras milikmu selama enam bulan lamanya. Tetapi aku ini orang yang tidak sabaran. Aku bukan orang yang ingin mencicipi kesengsaraan meski orang-orang bilang bahwa itulah hidup. Kemudian aku berpikir, apa yang sedang aku lakukan ini? Untuk apa aku melakukan ini? Mengapa pada mulanya aku memilih jalan ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu bergelantungan di langit-langit kamarku yang senyap. Membuat setiap tarikan napasku menjadi berat. Oh apalagi ini? Mengapa semua tugas ini tak ada selesainya? Mengapa lagi-lagi aku terjebak dalam situasi yang kiranya tak mampu aku lewati? Lalu aku melihat mereka, teman sekelas dan kakak kelas yang sepertinya selalu bahagia dan memiliki banyak energi untuk beraktivitas. Sementara aku sudah begitu lelah hanya karena masalah tugas yang menumpuk. Aku selalu ingin lari, ingin pergi dari tanggung jawab yang tak pernah aku minta secara langsung. Mungkin ini terjadi karena aku terlalu gegabah, mungkin aku terlalu menyepelekan masa depan, mungkin aku salah ambil langkah.
Aku ketakutan, amat sangat ketakutan. Warna merah di bajuku luntur seiring dengan keberanian yang lenyap dari diriku. Bagaimana jika pada akhirnya aku tak sanggup menyelesaikan ini semua? Bagaimana jika pada akhirnya aku lebih memilih menyerah? Aku rasa aku tak menikmati ini semua, aku rasa aku sedang menciptakan memori pahit yang tak ingin aku kenang di masa depan.
Sekarang aku ingin bertanya padamu, apakah yang merasa ketakutan untuk mengahadapi dunia baru ini hanya aku saja? Apakah rasa tak mampu yang membelenggu jiwa hanya aku yang rasakan? Apakah hanya aku yang merasa tak sanggup?
Aku juga mencoba untuk melihat segalanya dari sisi baik tetapi aku sudah terbiasa melihat sisi buruk terlebih dahulu. Tadinya aku melakukan itu karena ingin meminimalisir kesalahan tetapi jadinya malah aku ketakutan. Siapa sangka itu akan menjadi bumerang, balik menyerangku tanpa segan? Menjadikan aku seorang pengecut yang hanya ingin lari dari kenyataan.
Aku tahu ini baru permulaan, masih banyak jalan terjal dan berat siap menghadang langkahku di depan sana. Sekarang pilihan ada padaku, bangkit dan lanjutkan atau menyerah sekalian.
Aku menulis untuk meringankan bebanku, menganggap ini sebagai terapi agar pikiran negatif ini tak selamanya bergumul di pikiranku.
Setelah ini, aku ingin sekali bisa mengatur waktu. Membuat jadwal dengan rapi dan menjalinya tanpa beban. Aku juga ingin bisa menikmati proses hidup agar aku bisa mengambil setiap pelajaran yang diberikan. Yang terpenting adalah aku ingin rasa percaya diri kembali menerangi jiwaku supaya nantinya aku bisa berdiri tegak dan memberi tahu pada ketakutan bahwa aku dapat mengalahkannya. Bahwa aku dapat menjadi apa yang aku inginkan tanpa perlu merasa minder, tanpa perlu merasa lelah. Hingga akhirnya aku dapat mengucapkan dengan lantang bahwa aku sanggup!
Pertanyaan-pertanyaan itu bergelantungan di langit-langit kamarku yang senyap. Membuat setiap tarikan napasku menjadi berat. Oh apalagi ini? Mengapa semua tugas ini tak ada selesainya? Mengapa lagi-lagi aku terjebak dalam situasi yang kiranya tak mampu aku lewati? Lalu aku melihat mereka, teman sekelas dan kakak kelas yang sepertinya selalu bahagia dan memiliki banyak energi untuk beraktivitas. Sementara aku sudah begitu lelah hanya karena masalah tugas yang menumpuk. Aku selalu ingin lari, ingin pergi dari tanggung jawab yang tak pernah aku minta secara langsung. Mungkin ini terjadi karena aku terlalu gegabah, mungkin aku terlalu menyepelekan masa depan, mungkin aku salah ambil langkah.
Aku ketakutan, amat sangat ketakutan. Warna merah di bajuku luntur seiring dengan keberanian yang lenyap dari diriku. Bagaimana jika pada akhirnya aku tak sanggup menyelesaikan ini semua? Bagaimana jika pada akhirnya aku lebih memilih menyerah? Aku rasa aku tak menikmati ini semua, aku rasa aku sedang menciptakan memori pahit yang tak ingin aku kenang di masa depan.
Sekarang aku ingin bertanya padamu, apakah yang merasa ketakutan untuk mengahadapi dunia baru ini hanya aku saja? Apakah rasa tak mampu yang membelenggu jiwa hanya aku yang rasakan? Apakah hanya aku yang merasa tak sanggup?
Aku juga mencoba untuk melihat segalanya dari sisi baik tetapi aku sudah terbiasa melihat sisi buruk terlebih dahulu. Tadinya aku melakukan itu karena ingin meminimalisir kesalahan tetapi jadinya malah aku ketakutan. Siapa sangka itu akan menjadi bumerang, balik menyerangku tanpa segan? Menjadikan aku seorang pengecut yang hanya ingin lari dari kenyataan.
Aku tahu ini baru permulaan, masih banyak jalan terjal dan berat siap menghadang langkahku di depan sana. Sekarang pilihan ada padaku, bangkit dan lanjutkan atau menyerah sekalian.
Aku menulis untuk meringankan bebanku, menganggap ini sebagai terapi agar pikiran negatif ini tak selamanya bergumul di pikiranku.
Setelah ini, aku ingin sekali bisa mengatur waktu. Membuat jadwal dengan rapi dan menjalinya tanpa beban. Aku juga ingin bisa menikmati proses hidup agar aku bisa mengambil setiap pelajaran yang diberikan. Yang terpenting adalah aku ingin rasa percaya diri kembali menerangi jiwaku supaya nantinya aku bisa berdiri tegak dan memberi tahu pada ketakutan bahwa aku dapat mengalahkannya. Bahwa aku dapat menjadi apa yang aku inginkan tanpa perlu merasa minder, tanpa perlu merasa lelah. Hingga akhirnya aku dapat mengucapkan dengan lantang bahwa aku sanggup!
Komentar
Posting Komentar