Tenggelam

Kita barang kali pernah berpikir, bagaimana rasanya menjadi tidak ada?

Selalu menjadi seolah baik-baik saja. Aku merasa tak pernah bisa untuk tak peduli, untuk membiarkan yang berlalu biarlah berlalu, untuk menikmati setiap detik tanpa perlu merasa khawatir takut salah. Aku sangat takut jika aku melakukan kesalahan, aku tak bisa memaafkan diriku jika aku salah, sebuah kesalahan berarti sebuah kegagalan, dan aku tak akan pernah bisa untuk memperbaikinya. Aku cenderung menghindar, jika sudah salah berarti aku gagal di situ, aku tidak punya kesempatan lagi di bidang itu. Maka, aku lari kepada bidang yang lain, mencoba lagi berpura-pura semua hal akan baik-baik saja. Kali ini jangan gagal, harus bisa, jika gagal konsekuensinya masa depanmu yang hancur.

Akhir-akhir ini cukup sulit bagiku untuk berpikir positif. Tugas kuliah sebenarnya tidak begitu banyak, tidak begitu memberatkan. Namun, sesuatu yang tumbuh di pikiranku semakin liar dan bercabang, seperti memberitahu bahwa aku adalah kacau, dan berkata, "Lihat cermin itu, lihatlah pada wajahmu yang muram, itu belum cukup muram, seharusnya kamu menjadi lebih gelap. Coba lihat temanmu, ia bersinar terang, bisa mengatasi berbagai permasalahan, menjadi selalu bisa dan tegap ketika dihadapkan pada semua pertanyaan. Kamu? Apa yang kamu bisa? Hanya terus berlali dan menghindar, mungkin alangkah lebih baik bila kamu tenggelam saja."

Begitulah sehingga pada akhirnya aku berpikir untuk menghilang atau mungkin tenggelam. Aku sejujurnya masih bingung harus tenggelam ke mana? Apakah harus ke laut yang dalam tanpa dasar, atau ke danau yang tenang dan gelap? Barangkali, malah aku sudah tenggelam dalam pikiranku yang menggila. Ia melilitkan hal-hal baik dan menghancurkannya. Aku, tak ingin bangkit. Sungguh aku ingin menyerah. Sungguh, bila saja aku tidak terikat dengan segala macam tanggung jawab itu, sudah pasti aku akan menyerah. 

Aku lelah bila harus terus berjuang sedangkan hatiku tak berdiri di sana. Jangan katakan aku kurang bersyukur terhadap apa yang telah aku miliki. Kalian tidak akan mengerti bagaimana ketika malam tiba, kalimat-kalimat menyeramkan menjerat kalian. Bagaimana mereka berkata untuk mati saja, toh tidak ada yang peduli padamu. Kamu juga pemalas, tidak pernah fokus, terlalu tergesa-gesa, dan paling penting kamu selalu salah. Sadar tidak sih bahwa hidupmu itu adalah sebuah kegagalan dan yang kamu pilih adalah menghindar, bukannya belajar untuk menerima dan memperbaiki. Kamu itu adalah sebuah kesalahan. Tak usah menangis, kamu belum cukup menderita sehingga harus keluar air mata.

Jadi, aku memilih untuk menuliskannya. Aku takut suatu hari nanti aku tenggelam dan tak ada yang tahu mengapa. Sejujurnya tak apa menjadi tidak ada, aku hanya berharap tak ada yang ikut tenggelam bersamaku, cukup aku saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel: EVERMORE

Review Novel: REMBULAN DI PINGGANG BUKIT

Ruang Hati: Dari aku yang tak mau tenggelam dalam sunyi