Review Novel: REMBULAN DI PINGGANG BUKIT


"Bisa nggak Pak seseorang memilih jadi idhar? Semuanya jelas, nggak abu-abu, nggak penuh bayangan. Setiap orang tentu ingin kepastian dari semua hal yang sudah kita lakukan. Alasan melakukan ini dan itu."
hlm. 64
IDENTITAS
Judul                : Rembulan di Pinggang Bukit
Penulis              : Susan Arisanti
Penerbit            : Rail Media
Tahun Terbit     : 2015

SINOPSIS
Hiperaktif. Sering kena omel. Sadis. Jutek. Tapi memiliki hati yang lembut. Sebut saja itu Mufaisha Rahma Nurpati. Usianya 17 tahun, tapi tidak sehari pun dia tidak membuat kesal ibunya. Mulai dari kulkas yang rusak, kabel listrik yang diacak-acak, mesin cuci yang ngadat, dan alat elektronik lainnya yang tidak selamat jika Mufaisha sentuh.

Hal yang paling disukai selain dalam laboratorium pribadinya adalah berada di atap. Jangan berpikir atap adalah di atas genteng, karena tempat favoritnya adalah di antara plapon dan genteng. Apalagi? Tentu saja membuat percobaan “Penghematan Listrik Menggunakan Inverter, Energy Saver, Kapasitor dan lain-lain” dan dia lebih suka menyebutnya sebagai ide cerdas saat emak adalah makhluk paling boros sedunia.

Dengan tingkahnya yang luar biasa itu (baca: di luar garis normal) apa dia juga akan melewati kisah cinta layaknya virus merah muda yang menyerang setiap remaja normal?

REVIEW
Saya tertarik membaca novel ini karena judulnya yang unik. Siapa yang sangka bahwa tingkah Mufaisha jauh lebih unik? Meskipun bertema remaja tetapi jangan bandingkan novel ini dengan novel remaja di mana tokohnya antara cowok badboy dan cewek biasa aja yang saling jatuh cinta. Novel ini memiliki sisi tidak biasa yang akan membuat kamu membacanya tanpa henti. Bahasa yang digunakan dalam novel ini ringan tetapi begitu berisi di setiap babnya. Kamu akan menemukan bahwa novel ini begitu menarik karena membahas banyak hal, mulai dari pelajaran fisika, kimia, sampai hukum tajwid. Misalnya, "Hak gue, ini kan jembatan kedelai ciptaan gue. Kazuma Naksir Hanum Bikin Sengsara. Kalium, Natrium, Hidrogen, Bismut, Strontium." hlm. 41.

Tentunya saya juga menyukai alur dari novel ini, sebab ketika membacanya kamu akan merasakan emosi yang naik turun. Hubungan antara Mufaisha dengan orang tua, adik-adiknya, serta Juma pada tiap halamannya akan membuatmu gregetan sendiri. Juma adalah tokoh hero di sini, sikap Juma yang cool sekaligus jahil akan membuat kamu jatuh cinta padanya, begitu pula yang dirasakan Mufaisha. Tokoh Juma juga memberikan perkembangan bagi Mufaisha dalam meraih mimpinya. Jangan lupakan tokoh lain yang akan membuat kamu gregetan seperti Alexa, kemudian Prabu El Biruni yang akan membuat kamu salah fokus, sampai keculuan si kembar Tamiya dan Miraj.

Saya merekomendasikan novel ini dibaca ketika kamu memang meluangkan waktu untuk membacanya. Percayalah kamu tidak akan merasa rugi karena telah membaca novel ini, karena semua yang dibahas di dalamnya akan membuat kamu jatuh cinta. Bukan hanya pada Juma tetapi juga Mufaisha karena keteguhan hatinya.

Penilaian pribadi: 8.5/10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel: EVERMORE

Ruang Hati: Dari aku yang tak mau tenggelam dalam sunyi